Bahan Koki Minggu 3 (April)

Tema: Karya Salib Kristus Merupakan Korban untuk Pemuasan
Teks Alkitab: Roma 3:19-31
Pendahuluan:
Berdasarkan Imamat 4, siapapun yang melanggar hukum Taurat harus pergi ke Kemah Suci untuk memberikan korban persembahan kepada Tuhan. Bersyukurlah, ritual tersebut sudah tidak berlaku lagi bagi orang Kristen masa kini. Tapi pesan dari korban persembahan sangatlah jelas: dosa membutuhkan penebusan. Kita manusia tidak bisa menebus dosa kita sendiri karena kita sendiri adalah berdosa. Kita memerlukan korban Kristus untuk pendamaian/pemuasan ini karena kita berada di bawah murka Allah sebagai tuntutan keadilanNya. Agar manusia yang sudah jatuh dapat diperdamaikan dengan Allah, maka murka Allah haruslah dipuaskan. Keadilan dan Kekudusan Allah harus bertemu. Sebuah pengurbanan harus dibuat, darah harus dicurahkan, dan harus ada yang menanggung kematian.
Pembahasan:
Pemenuhan tuntutan keadilan dan kesucian Allah atas dosa adalah dengan mencurahkan murkaNya. Dalam darah Kristus ada jalan pendamaian (terjemahan dari hilasterion. “propitiation”/”pemuasan”) (1 Yoh. 2:2); Allah telah mengutus anak-Nya untuk menebus dosa kita (1 Yoh. 4:10); dan Yesus Kristus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya (Rm. 3:25). Sehubungan dengan pernyataan dalam 1 Yohanes 2:2, yang berbunyi: “dan Ia adalah pendamaian (sama dengan pemuasan) untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Jadi, murka Allah karena dosa yang telah kita lakukan menjadi reda karena telah tercurah darah Yesus di kayu salib, sehingga kita tidak lagi hidup di bawah murkaNya, tetapi kita hidup oleh karena AnugerahNya.
Penerapan:
- Bagaimana kita menyikapi anugerah ini?
- Apakah setiap saat kita menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah dari Allah?
- Sudahkah kita menghayati arti pendamaian yang sejati yang dianugerahkan Tuhan dalam hidup kita?
Aplikasi Praktis:
Marilah kita hidup kudus dalam Tuhan, bersukacita senantiasa sebab kita telah menerima anugerah dalam Hidup kita .
